KARAKTER BANGSA, DIMANAKAH ENGKAU ?
Oleh :Ira Irawati
Karakter bangsa merupakan frasa yang dibentuk dari dua kata, karakter dan bangsa.Terkodipikasi dalam kamus besar bahasa Indonesia, karakter itu adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Bangsa dijelaskan kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri. Berdasarkan pengertian ini karakter bangsa adalah budi pekerti yang ditunjukkan oleh individu-individu dalam suatu kesatuan orang-orang. Dengan kata lain karakter bangsa itu eksis dalam suatu komunitas masyarakat tertentu.
Sebagai suatu bangsa, Indonesia memiliki ciri khas dalam karakternya. Sejarah membuktikan bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beradab, memiliki sopan santun yang baik, ramah tamah, dan karakter baik lainnya bahkan tiap daerah memiliki kearifan lokal tertentu. Umpamanya, dalam karya sastra lama Geguritan Jagat Karana penulisnya yang anonim memulai karya sastranya dengan kalimat “Tuhwu apti kewala nandang guyu, amalakua sampurana, ring sang pratameng gurit, ana malih kawuwus, tan lian kang isining sadu.... (Sungguh karangan saya hanya menimbulkan teretawa, karena itu saya lebih dahulu saya lebih dahulu memohon maaf kepada yang bijaksana mengarang,dan lagi ada tersebut, tidak lain yang berbudi setia). Halk ini membuktikan bahwa karakter bangsa menjadi menjadi pola hidup bangsa Indonesia.
Karakter bangsa kemudian masuk ke dalam kuirikulum pendidikan kita terutama dalam kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP). Karakter bangsa menjadi bahan ajar yang diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Masuknya karakter bangsa ini ke dalam kurikulum ditenggarai karena merosotnya nilai-nilai moral sebagai karakter bangsa saat ini. Hampir di setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara karakter bangsa hilang ditelan kepentingan-kepentingan duniawi. Ilustasinya, menjadi pengemis bukan hanya profesi rakyat kecil yang malas bekerja, juga milik pejabat berdasi.
Masalahnya, karakter bangsa, dimanakah engkau?
Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono mencanangkan pelaksanaan gerakan nasional pembangunan karakter bangsa pada puncak peringatan hari Pendidikan Nasional 2010. Apabila menghitung tahun sejak pencanangan, sudah tiga tahun waktu berlalu, bagaimana kabarnya? Sementara berbagai keborokan dan lacur banyak dikerjakan anak-anak sekolahan. Dengan demikian apakah pendidikan yang salah? Mengapa pendidikan belum b isa mengubah akhlak anak bangsa menjadi lebih baik?
Semua negara di dunia menyepakati bahwa prinsip pendidikan itu sepanjang hayat atau long life education. Nabi Muhammad Saw. mengajarkan kepada umatnya bahwa diwajibkan mencari ilmu bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan mulai dari buaian hingga masuk lubang lahat. Pelajaran ini menjadi konsep bahwa setiap napas dan gerak harus menjadi pendidikan. Setiap yang dilihat, setiap yang didengar, setiap yang dirasa, setiap yang diraba, seetiap yang dicium merupakan pendidikan.
Dalam praktiknya semua apa yang dipahami panca indra tidak hanya menjadi pendidikan adakalanya menjadi pengajaran. Menjadi pendidikan manakala apa yang dipahami panca indra menjadi karakter yang baik, menjadi pengajaran apabila yang dipahami panca indra tidak hanya karakter baik juga karakter buruk.
Setiap hari indra kita disuguhi beragam pengajaran baik yang langsung atau tidak langsung. Pengajaran langsung terjadi dalam bentuk pengalaman sehingga dikatakan pengalaman sebagai guru “yang baik”. Pengajaran tidak langsung dapat terjadi melalui media terutama media komunikasi; televisi, radio, internet, koran dan lain-lain. Tampaknya medialah yang saat ini berperan menjadi “guru-guru” di samping guru. Media menjadi guru lebih dahsyat dari para guru di sekolah. Jam belajarnya pun lebih banyak nyaris 24 jam setiap hari, bandingkan dengan guru di sekolah yang jam mengajarnya 24 jam pelajaran setiap minggu, itupun tiap jamnya hanya 35 menit bagi siswa SD, 40 menit bagi siswa SLTP, dan 45 menit bagi siswa SLTA. Tidak mengherankan jika ada peralihan perilaku siswa lebih meneladani apa-apa yang dihadirkan di media daripada gurunya di sekolah.
Berdasarkan paparan di atas, penulis beranggapan pendidikan karakter itu akan berhasil jika bersinergi dengan rekan-rekan pengelola media. Sepanjang tidak bersinergi atau kurang bersinergi pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah hanyalah kentongan yang dipukul di pos ronda atau tong kosong nyaring bunyinya. Terdengar suaranya tetapi nihil isinya.
Bentuk-bentuk sinergi yang mungkin dapat dikerjakan duduk di satu meja menerjemahkan karakter bangsa dalam bidang pekerjaan masing-masing. Media tidak hanya menghitung finansial yang akan diperoleh dari tayangan-tayangan yang disajikan tetapi berhikmahlah dengan karakter bangsa yang terjadi saat ini. Apabila ini terjadi akan ada harmonisasi dunia pendidikan dan media dalam mencapai visi yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar