ARTIKEL PENDIDIKAN



MENCERMATI PERKEMBANGAN KURIKULUM 2013
oleh Rahmat Bahtiar
Kurikulum 2013 mulai dilaksanakan pada beberapa sekolah yang menjadi sampel pelaksanaan Kurikulum 2013, meskipun dalam pelaksanaannya masih menemui banyak kendala para guru konsisten berupaya untuk menerapkan kurikulum ini. Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh pihak sekolah untuk mensosialisasikan penerapan kurikulum ini, diantaranya dengan mengadakan kegiatan  In House Training (IHT)   mendatangkan guru inti yang dianggap berkompeten maupun guru-guru sekolah bersangkutan yang telah lebih dulu mengikuti diklat ditingkat propinsi.
Kurikulum 2013  merupakan kelanjutan dan pengembangan dari Kurikulumum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu. Pengembangan Kurikulum pada Kuruikulum 2013 dilakukan seiring  dengan tuntutan perubahan dalam berbagai aspek kehdupan dan melaksanakan amanah Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Mencermati draft bahan sosialisasi Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum 2013 untuk meningkatkan capaian pendidikan dilakukan dengan dua cara utama  yaitu peningkatan efektivitas  pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah.
 Evektifitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahapan yaitu evektifitas interaksi, efektivitas pemahaman, dan efektivitas penyerapan.
Efektivitas interaksi akan terwujud dengan adanya harmonisasi iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah.  Iklim akademik dan budaya sekolah sangat dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah dan para stafnya.
Efektivitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektivitas  pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat  tercapai apabila  pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi, asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Oleh karena itu penilaian berdasarkan proses  dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri.
Efektivitas penyerapan dapat tercipta ketika adanya kesinambungan  pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horisontal bermakna adanya kesinambungan  mata pelajaran  dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat satuan pendidikan SD, kelas VII sampai kelas IX  pada tingkat satuan pendidikan SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII pada tingkat pendidikan SMA/SMK. Kesinambungan pembelajaran vertical bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat satuan pendidikan SD,SMP, sampai SMA/SMK. Sinergitas dari ketiga efektivitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transformasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan local yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.
Penambahan jam pelajaran pada Kurikulum 2013 merupakan konskuensi dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu merubah pula proses penilaian yang semula berbasis output menjadi berbasis proses dan output. Meskipun ada penambahan jam pelajaran, jam pelajaran di Indonesia masih relative lebih singkat dibandingkan negara-negara lain.
Adanya peminatan pada mata pelajaran- mata pelajaran tertentu seperti di  jurusan IPS tetapi mengambil peminatan mata pelajaran kelompok IPA merupakan pemecahan masalah diskriminasi jurusan yang telah dipilih siswa.
Seperti air mengalir, pelaksanaan kurikulum 2013 pasti mengalami banyak tantangan dan hambatan, tetapi sebagai pendidik kita harus tetap teguh melaksanakan amanah dari pemerintah. Semoga apa yang kita lakukan menjadi amal  ibadah  dan kelak akan menghasilkan manusia-manusia yang terampil, cerdas dan berkarakter mulia.

                                                                                                                               




Kurikulum 2013: Syukur Bangsa Indonesia atas Nikmat Tuhan
oleh : ira irawati

            Kalau menanam padi rumput pun jadi. Pepatah ini penulis sampaikan untuk menggambarkan perjalanan kurikulum 2013. Pepatah ini mengisyaratkan bahwa setiap perilaku atau niat yang baik akan menemukan berbagai hambatan dan tantangan. Kebaikan itu tidak akan berjalan seperti di tol melainkan berjalan di atas jalan yang terjal dan berbatu. Padi untuk menggambarkan kebaikan dan rumput menggambarkan tantangan. Padi akan tumbuh baik manakala rumputnya disiangi.
            Kurikulum 2013 sebelum diberlakukan mendapat tantangan dari beberapa elemen masyarakat walaupun pada akhirnya diimplementasikan dalam tahun ajaran baru 2013-2014. Tantangan yang dimaksud adalah penolakan dengan beragam argumentasi. Dari beragam penolakan yang disampaikan bermuara kepada kesimpulan, kurikulum 2013 ditolak karena segala komponen kurikulum yang harus dipersiapkan belum lengkap. Di sinilah penulis analogikan kurikulum 2013 sebagai padi sedangkan penolakannya merupakan rumput yang harus disiangi.
            Dalam sisi lain, kurikulum 2013 merupakan penolak dahaga. Kehadirannya berada pada momen yang tepat, saat kondisi berbangsa dan bernegara dalam dekadensi moral. Merosotnya nilai-nilai moral ini ditandai dengan tidak asingnya beragam kepalsuan dan kemunafikan dalam sendi-sendi kehidupan. Kasus kekerasan, pencurian, korupsi, pencucian uang, plagiat, mementingkan kelompok, buruk sangka, pemerkosaan, zina, pemaksaan kehendak, bunuh diri merupakan pemandangan keseharian yang tidak aneh lagi. Merupaka suatu keniscayaan, kehadiran kurikulum 2013 akan memberikan solusi di paruh waktu yang akan datang, lima tahun, enam tahun kemudian.
            Ada yang memikat dengan kurikulum 2013. Kurikulum ini hemat penulis, keragaman dalam menggapai satu tujuan. Kurikulum berisi beragam bahan ajar yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan satu tujuan untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang Maha Esa; Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa (Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013).
            Mensyukuri nikmat Tuhan merupakan rangkaian yang berkesinambungan yang terdapat dalam filosofis bernegara dan berbangsa. Selain itu syukur nikmat dicatat pula dalam mukadimah UUD 1945. Dalam filosofis negara, Pancasila terdapat dalam sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Sila ini menunjukkan kesadaran yang mendalam bahwa mengingat Tuhan merupakan yang utama dalam menata berbangsa dan bernegara. Dalam pembukaan UUD 1945, pengakuan akan ke-Tuhan-an disampaikan dalam alinea ketiga: Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan  luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Hal ini membuktikan bahwa manusia tidaklah menentukan apa yang diingininya melainkan ada kekuatan lain yang menyertainya. Kekuatan yang dimaksud adalah kuasa Tuhan semesta alam. Dengan  kenyataan tersebut, tampak bahwa kurikulum 2012 sebagai pengejawantahan Pancasila dan UUD 1945.
            Dalam khazanah agama Islam, syukur merupakan keharusan bagi pemeluknya. Allah Swt. mengajarkan melalui utusannya, Nabi Muhammad Saw. bahwa Allah akan menambah nikmat bagi mereka yang bersyukur sedangkan bagi yang mengingkarinya Allah menjanjikan azab yang pedih.
            Ada tiga tahapan sebagai tanda syukur. Pertama ingat kepada pemberi nikmat. Kurikulum 2013 secara tersurat membimbing ke haluan tersebut. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya (Kompetensi inti). Mensyukuri anugrah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis informasi lisan dan tulis melalui teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi (Kompetensi Dasar). Di sini terlihat bahwa peserta didik bisa apapun sebagai  hasil dari belajarnya tidak menapikan kehadiran Tuhan. Peserta didik harus mensyukuri atau berterima kasih kepada yang memberikan nikmat.
            Perilaku sombong merupakan keniscayaan yang dapat terjadi ketika peserta didik merasa sukses setelah selesai pendidikan dan memperoleh pekerjaan yang dicita-citakannya. Penerima Nobel Fisika 2013, Peter Higgs merupakan seorang atheis. Walaupun penemuannya dinamai partikel Tuhan  tetapi dia mengatakannya tidak terkait dengan Tuhan. Peter Higgs penemu asal usul massa (Pikiran Rakyat, 9 Oktober 2013) demikian  sombong dengan penemuannya. Di sinilah betapa pentingnya pendidikan untuk mengingatkan peserta didiknya ingat kepada pemberi nikmat. Tentu saja dengan tersuratnya akan syukur kepada Tuhan akan memberikan andil bagi generasi yang akan datang tidak menafikan kehadiran Tuhan.
            Tanda kedua, syukur itu ditandai dengan taat kepada pemberi nikmat.Tahap ini, dalam kurikulum 2013 ditandai dengan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan para pendidik (guru) mewujudkan sikap yang diharapkan berdasarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Pada aspek ini peserta didik akan digiring kepada suatu pergulatan pengetahuan dengan muara hadirnya ketaatan dalam berprilaku agar memiliki ketaatan kepada pemberi nikmat. Bentuk kongkret penggiringan adalah berkaitan dengan eavaluasi. Evaluasi tidak hanya untuk ranah pengetahuan dan keterampilan saja, juga sikap yang ditunjukkan agar berprilaku baik berdasarkan atas ke-Tuhanan.
            Tanda ketiga, syukur itu diwujudkan dengan mamanfaatkan nikmat sesuai dengan pemberi nikmat. Bagian ini merupakan aplikasi dari apa yang  diharapkan pemberi nikmat. Berkaitan dengan kurikulum 2013, tahap ini adalah pola hidup yang diharapkan setelah peserta didik lulus dari jenjang pendidikan. Dengan kata lain, bagian ini merupakan pengamalan beragam pengetahuan yang diperoleh peserta didik dalam masyarakat.
            Penutup, sesuai dengan janji Allah Swt. bahwa bagi yang bersyukur, Allah Swt. akan menambah nikmat-Nya, maka dalam kurikulum 2013 telah menghadirkan syukur yang sesungguhnya. Di samping hal tersebut, pola iman, ilmu, dan amal tampak pula dalam kurikulum 2013. Dengan demikian, negara yang gemah ripah repeh rapih, bangsa yang sejahtera dan beradab kita tunggu bersama. Wallohu ‘alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar